DIREKTORAT BINA TEKNIK JALAN DAN JEMBATAN

Jurnal Jalan-Jembatan

Bagian Depan

Bagian ini berisi cover, daftar isi, prakata dan kumpulan abstrak

ALTERNATIF PERENCANAAN KOMPOSISI CAMPURAN BETON DENGAN GABUNGAN BAHAN TAMBAH KIMIA TIPE F DAN D AGAR WAKTU BUKA ACUAN DIPERCEPAT

Tuntutan percepatan waktu penyelesaian proyek sering kali menjadi kendala khususnya pada pekerjaan struktur yang menjadi lintasan kritis. Lamanya perawatan beton (curing) dan bongkar acuan menghambat progres pekerjaan di lapangan. Waktu yang dibutuhkan untuk pengecoran, perawatan beton dan bongkar acuan pada proyek pembangunan jembatan bentang panjang ± 14 hari dengan catatan tidak ada kendala di lapangan. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti mencoba memberikan solusi alternatif melalui uji kuat tekan dengan variasi mutu beton dan umur perawatan menggunakan bahan tambah kimia tipe F dan tipe D. Riset ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton minimum yang dicapai, lamanya perawatan beton, serta pengaruh pemakaian bahan tambah dengan mengacu pada standar spesifikasi umum 2018 (70% dari kuat tekan beton yang dirancang). Variasi mutu beton yang digunakan 40 Mpa, 50 Mpa dan 60 Mpa sedangkan variasi umur perawatan 1,2,3,7 dan 28 hari. Dari hasil pengujian didapatkan kuat tekan minimum beton f’c 40, 50 dan 60 Mpa sebesar 28,58 Mpa, 36,85 Mpa dan 46,25 Mpa. Waktu yang dibutuhkan untuk perawatan beton selama 2 hari untuk fc’ 40 dan 50 Mpa sedangkan f’c 60 Mpa proses curing membutuhkan waktu 3 hari. Pemakaian bahan tambah juga memberikan dampak pada peningkatan kuat tekan. Nilai kuat tekan maksimum umur 28 hari terdapat pada variasi f’c 60 Mpa sebesar 62,20 Mpa dengan kadar bahan tambah tipe F dan D masing-masing sebesar 0,6% dan 0,15% dari berat semen. Kuat tekan optimum tercapai jika dilakukan perawatan menggunakan metode perendaman.

Kata Kunci: lintasan kritis, acuan, bahan tambah kimia, kuat tekan, metode perendaman.

PENGARUH UMUR BETON PADA PENGUJIAN INTEGRITAS FONDASI TIANG BOR

Pengujian integritas pada pondasi dalam, atau yang lebih dikenal dengan merk dagang PIT, merupakan salah satu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui integritas fondasi tersebut. Integritas dapat berupa panjang tiang dan adanya pembesaran dan/atau pengecilan pada fondasi tiang tersebut. Belum ada standar yang mengatur berapa umur mininal beton saat dilakukan uji integritas, namun seringkali dilakukan setelah umur beton 28 hari dengan nilai cepat rambat gelombang Ws = 3.800 m/detik dan belum ada nilai koreksi apabila pengujian dilakukan pada umur beton kurang dari 28 hari. Penelitian dilakukan pengujian integritas dengan alat PIT pada fondasi tiang bor di kawasan Bromo, di mana umur beton saat diuji adalah 1 dan 11 hari. Berdasarkan hasil kajian didapatkan adanya perbedaan pergeseran letak pembesaran beton sebesar 11,5% pada fondasi tiang bor yang diujikan. Namun dengan mengacu bahwa pengujian integritas dengan alat PIT adalah pengujian kualitas, bukan kuantitas, sehingga pengaruh umur beton pada pengujian integritas, khususnya dengan alat PIT dapat diabaikan.

 Kata Kunci: uji integritas, fondasi dalam, tiang bor, umur beton, fondasi dalam, cepat rambat gelombang

KINERJA DINAMIK JEMBATAN RANGKA BAJA YANG MENERAPKAN LEAD RUBBER BEARING (LRB)

Penerapan teknologi LRB pada jembatan di Indonesia belum sepopuler di Negara maju, padahal Indonesia adalah salah satu Negara dengan tingkat frekuensi kejadian gempa paling tinggi.  Teknologi LRB lebih populer penerapannya untuk struktur gedung.  Namun seiring dengan perkembangan teknologi, LRB sudah banyak diterapkan pada infrastruktur jalan dan jembatan terutama pada ruas jalan tol.  Bahkan Indonesia sudah mampu memproduksi LRB yang kualitas dan kuantitasnya tidak kalah dibanding Negara lain.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kinerja jembatan yang menggunakan LRB dalam mengakomodir gaya gempa.  Penelitian ini mengkaji hasil monitoring jembatan dengan mengganti sistem perletakkan berupa bearing pad dengan  LRB.  Pemasangan LRB dilakukan pada jembatan rangka baja  dengan panjang 65 meter.  Pengujian beban dilakukan dengan 4 metoda pembebanan beban truk 6 roda. Pemasangan sensor akselerometer sebanyak 4 buah (2 arah vertikal jembatan dan 2 arah melintang jembatan) yang di pasang di tengah bentang.  Selain pemasangan akselerometer dilakukan pemasangan LVDT dengan arah memanjang jembatan.  Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa nilai frekuensi natural bangunan atas jembatan tidak berubah (yaitu sebesar 4,64 Hz).  Terjadi peningkatan kinerja landasan, khususnya waktu redaman dari 7,36 detik menjadi 4,01 detik; rendaman dari 2,175% menjadi 3,005%, dan pergeseran δH dari 0,03 mm detik dengan nilai magnitude yang sama.

 Kata kunci: jembatan rangka baja, LRB, sensor,  frekuensi, redaman

ANALISIS KESTABILAN LERENG PADA BATUAN LAPUK MENGGUNAKAN KRITERIA KERUNTUHAN GENERALIZED HOEK-BROWN DAN MOHR-COULOMB EKUIVALEN

Dalam model keruntuhan tanah, kekuatan hanya dikontrol oleh friksi antar butiran dimana jika dianalogikan dalam keruntuhan massa batuan, ini sama dengan kekuatan batuan intak. Kekuatan diskontinuitas jelas tidak diperhitungkan dalam kriteria keruntuhan tanah.  Dalam makalah ini dilakukan analisis kestabilan lereng di dua lokasi pada batuan lapuk yang mengambil obyek di rencana pembangunan jalan lintas selatan Jawa Timur, ruas pantai Serang – Batas Kabupaten Malang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan mekanika batuan dengan menggunakan kriteria keruntuhan non-linier Generalized Hoek-Brown. Kriteria ini diekuivalenkan dengan kriteria keruntuhan linier Mohr-Coulomb dimana kriteria Mohr-Coulomb ini sudah lazim dilakukan dalam analisis kestabilan lereng. Analisis kestabilan lereng dengan menggunakan kriteria keruntuhan generalized Hoek-Brown selalu menghasilkan faktor keamanan (FS) kritis dibanding analisis kestabilan lereng menggunakan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb ekuivalen, dengan selisih nilai FS 50,5% di STA. 16+350 dan 16,03% di STA. 14+125. Bidang gelincir kritis yang dihasilkan pada analisis dengan kriteria keruntuhan generalized Hoek-Brown selalu berada pada area yang lebih dangkal jika dibandingkan dengan bidang gelincir kritis pada analisis dengan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb ekuivalen.

Kata Kunci: lereng batuan lapuk, generalized hoek-brown, mohr-coulomb ekuivalen, geological strength index, lintas selatan jawa