DIREKTORAT BINA TEKNIK JALAN DAN JEMBATAN

Jurnal Jalan-Jembatan

Bagian Depan

Bagian ini berisi cover, daftar isi, prakata dan kumpulan abstrak

ANGKA EKIVALEN MDP-2017

Angka ekivalen sebagai perbandingan tingkat kerusakan sumbu tertentu terhadap beban sumbu standar adalah usaha menyederhanakan proses desain. Tiap metode desain dapat mempunyai nilai ekivalen yang berbeda dibandingkan dengan metode lain. MDP 2017 yang mengacu pada Austroads 2008 membedakan angka ekivalen untuk penggunaan tertentu, seperti ESA4 untuk perkerasan dengan beton aspal kurang dari 100 mm dan berpondasi material berbutir, dan ESA5 untuk lapis permukaan beton aspal lebih dari 100 mm dan berpondasi berbutir. ESA4 juga digunakan untuk desain lapis tambah dengan kriteria deformasi permanen, sedangkan ESA5 untuk desain tebal lapis tambah dengan kriteria retak lelah. Berdasarkan pendekatan mekanistik empiris dan transfer function yang dipakai oleh MDP pada berbagai model tebal struktur yang dianalisis, maka dapat disimpulkan bahwa nilai angka ekivalen bersifat unik tergantung pada beban, jenis sumbu, tebal struktur perkerasan, dan modulus tanah dasar, yaitu EALF Austroads. Tidak diperlukan pembedaan angka ekivalen dengan ESA4 atau ESA5. Baik ESA4 maupun ESA5 tidak sama dengan EALF Austroads, sehingga tidak dapat menjadi substitusi EALF Austroads.

THE PENGARUH PENGKONDISIAN TERHADAP KINERJA CAMPURAN BERASPAL PANAS DAUR ULANG DENGAN KADAR RAP TINGGI

Perancangan dan pelaksanaan campuran beraspal panas daur ulang akan  sukses apabila dibuktikan dengan kinerja campuran beraspal yang baik di laboratorium dan lapangan. Kinerja campuran beraspal panas daur ulang (ACWCRAP) yang diuji yaitu pengujian parameter Marshall, ketahanan terhadap deformasi, dan pengujian ketahanan terhadap retak lelah (fatik). Benda uji yang digunakan adalah yang  telah dikondisikan di dalam oven pemanas dan yang tidak dikondisikan/standar sesuai dengan prosedur AASHTO R30-02. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh pengkondisian terhadap kinerja campuran beraspal panas daur ulang dengan RAP tinggi. Yang dimaksud dengan penggunaan RAP tinggi adalah penggunaan bahan RAP dalam campuran beraspal panas daur ulang dengan 3 variasi penggunaan bahan RAP sebesar (60%, 80% dan 100%). Kesimpulan dari percobaan ini adalah semua sifat campuran beraspal memenuhi persyaratan. Nilai stabilitas ACWCPolimer adalah setara dengan ACWC dengan 100% RAP, namun untuk nilai stabilitas dengan benda uji dikondisikan (STOA) diperoleh stabilitas ACWC dengan 100% RAP lebih tinggi. Stabilitas ACWC dengan 60% RAP dan 80% RAP lebih rendah dari stabilitas ACWCPolimer. Stabilitas dengan benda uji STOA ACWCPolimer setara dengan ACWC dengan 80% RAP, sedangkan untuk ACWC dengan 60% RAP masih lebih rendah dari stabilitas ACWCPolimer. Semua campuran memenuhi persyaratan untuk nilai stabilitas dinamis. ACWCRAP dengan penggunaan RAP makin banyak maka lebih tahan terhadap deformasi, baik untuk benda uji fresh maupun yang STOA. ACWC dengan 100% RAP lebih tinggi dari ketahanan deformasi ACWCPolimer, namun untuk benda uji yang STOA maka ketahanan deformasi ACWCPolimer lebih tinggi daripada campuran beraspal lainnya. Berdasarkan fakta tersebut, kinerja ketahanan deformasi ACWCPolimer lebih baik dibandingkan ACWCRAP. Mengacu terhadap regangan tarik izin campuran beraspal sebesar 100 µɛ maka campuran ACWCRAP, untuk benda uji yang fresh dan STOA lebih tahan fatik daripada ACWCPolimer. Membandingkan antara ketiga proporsi ACWCRAP, yang menggunakan 100% RAP adalah yang paling tahan fatik.

EFEKTIFITAS MATERIAL RINGAN MORTAR-BUSA SEBAGAI TIMBUNAN OPRIT PADA KONSTRUKSI STRUKTUR TURAP

Salah satu permasalahan di bidang geoteknik adalah stabilitas lereng. Pada lereng timbunan, khususnya pada oprit jembatan, pengaruh tekanan lateral terhadap abutment harus diperhatikan. Timbunan pada oprit biasanya menggunakan material pilihan yaitu timbunan tanah dengan berat jenis antara 1,6 – 1,8 t/m3, yang mana semakin tinggi timbunan maka semakin besar tekanan lateral yang terjadi. Penggunaan timbunan ringan mortar busa dapat mereduksi pengaruh tekanan lateral, bahkan secara teoritis dapat mereduksi tekanan menjadi hanya sebesar 0,1 kPa. Studi kasus dilakukan pada oprit Jembatan Randu Merak, Probolinggo. Pada lokasi tersebut dipasang instrumen pressure cell untuk memantau tekanan lateral yang terjadi. Pressure cell terpasang pada dasar timbunan dan pada sheet pile. Metode yang digunakan adalah membandingkan besarnya tekanan lateral yang terjadi pada timbunan oprit jembatan dengan menggunakan tanah sebagai timbunan dan material ringan mortar-busa sebagai pengganti timbunan tanah. Tekanan lateral pada timbunan tanah dihitung secara teoritis, sedangkan tekanan lateral pada timbunan ringan didapatkan dari hasil bacaan pressure cell. Berdasarkan hasil perhitungan tekanan lateral maksimum yang ditimbulkan akibat timbunan tanah adalah sebesar 29,58 kPa, sedangkan dari hasil bacaan pressure cell besarnya tekanan lateral yang ditimbulkan akibat timbunan ringan sebesar 1,37 kPa. Sehingga didapatkan bahwa penggunaan timbunan ringan mortar-busa dapat mereduksi nilai tekanan lateral hingga sebesar 97,35 % .

 

Kata Kunci: tekanan lateral, material ringan, mortar-busa, oprit, lereng

PENGKINIAN FAKTOR PENYESUAIAN KAPASITAS JALAN PERKOTAAN TIPE 22-TT AKIBAT LEBAR LAJUR

Jumlah kendaraan di Indonesia meningkat, penyiapan infrastruktur jalan pun harus menyiapkan prasarana jalan yang aman, selamat, dan tidak mengganggu lingkungan sesuai dengan perkembang kendaraan saat ini. Dengan demikian perhitungan kapasitas jalan dapat disesuaikan dengan perkembangan kendaraan pada saat ini. PenelitIan dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu merubah penempatan marka garis untuk mendapatkan variasi lebar lajur jalan yang dilakukan di kota Bandung dan kota Medan. Variasi lebar lajur yang didapat adalah 11, 8, 5,7. Data kendaraan (kendaraan berat, kendaraan ringan, sepeda motor) yang dicatat menggunakan kamera video adalah waktu yang dihabiskan melewati tanda garis 20m. Data selanjutnya dihitung untuk mendapatkan kapasitas maksimum. Data kapasitas dari berbagai variasi lebar lajur dibandingkan dengan data kapasitas lebar standar, sehingga didapatkan factor koreksi kapasitas akibat perbedaan-perbedaan lajur. Hasil penelitian yang didapat adalah perbandingan factor kapasitas 2019 dan 1997 menunjukkan bahwa pada tipe jalan 2TT terlihat bahwa perbedaan berkisar 2,4 sampai dengan 65,1.

Kata kunci: kapasitas jalan 2 lajur 2 arah, factor koreksi kapasitas jalan, manual kapasitas jalan.