Puslitbang Jalan dan Jembatan
Bandung, 17-18 September 2018

Seminar Nasional Terowongan

Seminar Nasional Terowongan

Terowongan merupakan salah satu alternatif teknologi konstruksi prasarana transportasi di daerah pegunungan atau untuk melintas di bawah laut, yang menjadi tantangan dalam pembangunan jaringan transportasi di Indonesia. Selain itu terowongan juga menjadi salah satu pilihan solusi teknologi konstruksi dalam pengembangan infrastruktur transportasi perkotaan.

Terowongan bukanlah hal baru di Indonesia. Terowongan telah dibangun sejak jaman kolonial Belanda, seperti terowongan Sasaksaat (949m) yang dibangun pada tahun 1902-1903, terowongan Garahan (113m) yang dibangun 1901-1902, terowongan Mrawan (690m) yang diperkirakan dibangun pada tahun 1901-1910, hingga terowongan Notog (260m) yang dibangun pada 1914-1915.

Pada masa kini, geliat Indonesia dalam membangun terowongan sudah mulai muncul kembali, di antaranya dengan membangun terowongan-terowongan sebagai berikut:

  • Terowongan pengelak pada bendungan.

Bendungan Jatigede (2008-2011), bendungan Bajulmati (2006), dan bendungan Jatibarang (2010).

  • Terowongan untuk kereta api.

Terowongan Notog (2017-2018), terowongan Kebasen (2017-2018) dan MRT Jakarta (2014- renc. 2019).

  • Terowongan jalan.
    • Terowongan di jalan tol Cisumdawu (2017- renc. 2019) yang sedang dalam proses konstruksi.
    • Rencana pembangunan jalan tol Padang-Pekanbaru yang dalam proses kajian kelayakan dan basic design.

Teknologi terowongan umumnya dipilih berdasarkan kriteria jenis tanah/batuan yang akan dilewati dan kondisi morfologinya, antara lain:

  • Metode New Austrian Tunneling Method (NATM); umumnya digunakan kerena variasi kondisi tanah/batuan yang dihadapi di daerah pegunungan, seperti terowongan Cisumdawu.
  • Metode perisai (shield tunneling); umumnya digunakan karena kondisi tanah lunak dan muka air tanah yang tinggi serta keterbatasan lahan di perkotaan, seperti terowongan MRT Jakarta.
  • Metode immersed tunnel; umumnya digunakan untuk menggantikan jembatan yang melewati sungai yang lebar.
  • Metode gali dan tutup (cut and cover); umumnya digunakan untuk lintas bawah di daerah perkotaan dengan panjang kurang dari 500m sesuai Peraturan Menteri PUPR No 19/PRT/M/2011.

Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR, telah menjalin kerja sama dengan pihak dalam dan luar negeri dalam penelitian bidang terowongan jalan, yaitu:

  • Public Works and Research Institute (PWRI) dan National Institute of Land and Infrastructure Management (NILIM) Japan.
    • Merupakan kerja sama litbang terowongan pada media campuran tanah-batuan.
  • Asosiasi profesi Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI).
    • Merupakan kerja sama pembuatan standar persyaratan perencanaan geoteknik (SNI 8460:2017) yang di dalamnya membahas persyaratan perencanaan terowongan pegunungan/batuan, terowongan perisai dan terowongan lintas bawah (metode galian tutup).
  • PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta
    • Merupakan kerja sama litbang terowongan perisai dengan metode keseimbangan tekanan tanah

Seminar Nasional Terowongan ini dimaksudkan untuk memperkuat mindset para pemangku kepentingan bahwa terowongan merupakan salah satu pilihan untuk prasarana transportasi yang andal. Seminar ini sekaligus sebagai ajang bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang teknologi terowongan pada kondisi geografi dan geologi yang beragam.

Pelaksanaan

Waktu : Senin – Selasa, 17 – 18 September 2018

 

Tempat :

Hari ke-1: Kampus Pusjatan Bandung

Hari ke-2: Kunjungan teknik ke lokasi terowongan jalan tol Cisumdawu



Bagikan: